Memandang senja memantul di busa kopi

6 05 2012

Kursi-kursi memanjang
Berbaris diagonal
Lelehan busa kopi ditubir cangkir
Tatapan sampul buku yang menyudutkan..
Antologi tentang mati berserakan di bibir jendela
Tak ada dedaunan gugur
Hanya percakapan dua bibir
Bergeletar di kursi depan
Senja memahat dirinya sendiri di langit berwarna ungu

Betapa hidup telah lama dilupakan
Disibukkan ketakutan
Tetangga yang membeli furnitur baru
Membandingkan isi kepala
Terbaca?
Tiba-tiba wajah makin terasa kusam
Dan busa kopi memantulkan senja yang suram..





sajak sepeda mini

8 02 2012

Bangun tidur pagi tadi

Anakku yang laki-laki tiba-tiba merengek minta sepeda mini

Sepulang dia sekolah

Tetap saja permintaannya tak berhenti

Oh ya,

Sekarang tanggal berapa? Delapan?

Masih jauh dari tanggal duapuluhlima atau tanggal satu ternyata

Bukan!

Bukan menghitung berapa lama lagi hari gajian

Tapi biasanya rengekannya berhenti setelah hari ketujuhbelas

Memang tak ada jadwal pasti untukku mendapatkan uang

Seperti juga tak ada jadwal pasti untuk tetangga sebelahku apakah hari ini bisa sarapan atau terpaksa meneruskan puasa yang terus dilakoni selepas lebaran hingga lebaran berikutnya

Tak berarti pula aku tak punya uang

Siapa bilang?

Aku punya

Tapi tadi pagi tukang kredit panci menagih setoran

Oh ya,

Sebelumnya pegawai PLN juga datang mengancam

Tak bayar? Diputus aliran!

Anakku yang laki-laki

Akhirnya terlelap setelah kuninabobokan dengan dongeng pengantar tidur siang

Tentang monyet, kura-kura dan pak tani yang tak diperkenankan lagi melakukan panen raya

Juga tentang makhluk berkaki dua yang setelah dewasa lebih menyerupai hewan pengerat yang berjalan dengan empat kakinya

Bangun tidur tadi

Anakku yang laki-laki kembali merengek

Kali ini dia tak minta sepeda mini

Ingin jadi presiden katanya

Supaya kerjanya bermain sepeda mini saja di istana





APA JADINYA DUNIA TANPA MUSIK TANPA CINTA YANG TERAMAT SANGAT SULIT KITA TEMUI DALAM LIRIK LAGU CINTA

8 02 2012

Memelototi televisi
Aku menyalakan bom bunuh diri
Mereguk limbah cair dengan buih keruh di atasnya, seteguk, seteguk..
Plak!
Lagi lagi seperti kemarin dan kemarin lusa
Jidatku dilempari berita utama
Loper sialan! Tak adakah berita sentosa untuk hari ini saja?
Melarikan diri dari khotbah nabi-nabi palsu
Kuteriakkan amarah
Tak sendiri
Tentu saja
Lihat!
Aku ditemani Lennon, kau tahu?!
Aku dibarengi Joplin, Morrison
Mabuk LSD dengan Gilmour
Tentu saja
Selepas mereka pamitan
Aku kembali ke meja makan atau teras depan
Menghirup teh dengan Ebiet atau Iwan yang sekarang sudah jadi orang gedongan..

Setelah mereka menghilang
Siapa lagi yang akan menemani selain kau, istriku
Mari kemari
Temani aku menikmati angin barat atau cahaya timur yang tenggelam dalam pekat kopi
Temani aku menyanyikan musik dan cinta yang teramat sangat sulit kita temui dalam lirik lagu cinta
Atau kita nyanyikan Indonesia Raya saja
Atau
Mendinginkan kata-kata
Mendinginkan kata
Kata…





epitaf

4 02 2012

Pusara-pusara sibuk sepagi ini. Menyingkirkan jelatang dan rerumput liar. Menggali do’a-do’a dengan lirih. Menimbun pertanyaan-pertanyaan yang kelak bisa kita jawab atau entah. Lalu timbangan disiapkan..
Siraman kendi dan taburan setanggi mengamini doa yang merunduk, menunduk.. Menunggu nomor giliran.. Siapakah? Siapkah?
Hamparan telapak tangan diacungkan ke langit berkalang tanah. Beberapa kaki kain blacu murah diikatkan ujungnya, dieratkan untuk kembali dilepaskan. Padung-padung yang dijejerkan, bisakah menghalangi tibanya pembawa pesan? Oo, jiwa yang mengangkasa. Berbahagialah, berbahagialah. Bukankah selalu gempita upacara pelepasan? Walau kemudian hanya hening, hanya hening yang selalu indah, selalu megah dengan caranya sendiri.

Tak pernah ada caci maki dalam obituari. Dan epitaf memerah dirajah kenangan..





sajak minum kopi dan berbelanja nyawa sesudahnya…

2 02 2012

Di tempat yang selalu sama setiap pagi membaca judul-judul menaikkan tensi, kemudian meredakannya dengan secangkir kopi
Setelahnya bergegas menjemur umur di tiang-tiang gawang
Hari ini, kabarnya nyawa mendapat banyak potongan harga

Dan di minimarket yang berlari cepat di sebelah pasar yang berjalan lambat seperti tayang ulang pelanggaran sepakbola, kemanusiaan dijual dalam kemasan kalengan
Terburu-buru asal sambar tak sadar tanggal yang kadaluwarsa
Di dapur, kita memasak sambil melihat televisi membusungkan dadanya
Lalu diam-diam pergi ke kamar mandi
Mencicipi asin darah sendiri sambil masturbasi

Kehilangan hidup, kembali hanya menjadi angka-angka di lembaran awal surat kabar
Getir, semakin tak lagi bisa dicecap lidah kita yang kian tawar





suatu hari kenanglah aku

2 02 2012

Suatu hari
saat wangi humus basah selepas hujan menelusup ke dadamu
akankah kau kenang cinta yang pernah kukenalkan dulu?

Maka kenanglah hujan
Kenanglah lumut, batu licin sepanjang perjalanan, atau derai sungai tempat kita berbasah-basahan
Maka kenanglah aku..





Sajak Pertemuan

9 09 2011

Sekilas kerutan kerutan di wajahmu
Menyadarkan bahwa aku tak lagi belia
Tapi kenangan-kenangan yang berhamburan
Sungguh terasa begitu baru saja

Di bawah bangku mencuri baca komik dewasa
Terkekeh menertawakan botak di kepala guru sejarah
Dan sewaktu bercermin di kaca meja rias pagi tadi, mendadak kita menemukan kepalanya serupa kepala kita

Terbahak mengingat saat kita sembunyi-sembunyi mencuri nangka di halaman sekolah
Menyembunyikannya di para para
Hingga harumnya menyebar sampai ujung kelas sebelah
Atau mengintip isi rok guru bahasa Indonesia
Oooo, tak pernah terpikir benar salah
Kita adalah kanak-kanak tanpa dosa, tentu saja

Pada senyum kanak-kanak di wajah-wajah yang menua
Di halaman, tempat bermain bola dan kejar-kejaran
Tempat dihukum berdiri sebelah kaki
Bersama kita menolak menjadi dewasa…

Cinta kita, kawan, selamanya akan selalu muda…








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.