ORANG YANG KERAP AKU TEMUI DI KAMARKU

9 01 2017

Sering sekali aku temui
Orang yang terlihat arif
Tapi senang memasang tarif
Orang yang terlihat alim
Tapi malas sekali mendahului mengajak salam
Orang yang pintar
Tapi hampir setiap waktu ingin bertengkar
Orang yang rajin berdo’a
Tapi tak terlihat mengaminkan perjuangan jelata
Orang yang senang berderma
Tapi bangga dengan tangan kanannya
Orang yang ingin terlihat benar
Tapi dengan menyalahkan sekitar

Alangkah kerap aku temui orang itu
Di kaca cermin kamarku…

facebook, 9 Januari 2017

Advertisements




Suatu Haru, Suatu Hari

28 07 2015

Suatu hari
Mungkin kita akan jadi sepasang kelinci
Saling mengendus menciumi ujung hidung
Hingga bayangan serigala membuat langit kembali mendung

Atau mungkin kita memerankan dua pecinta
Atau sepasang badut
Aku akan pura-pura merajuk
Kau bergegas membujuk

Mungkin itu cara menjaga kepercayaanmu akan kebahagiaan
Aku menjadi kanak-kanak, dan kau seorang keibuan
Sampai penanda malam dibunyikan genta yang hingar menghantam dinding-dinding ingatan

Bergegas mencari jalan pulang..





Sajak Mata Air Mata

28 07 2015

Langit hitam
Seribu gagak menyerbu ladang
Berteriak-teriak mengutuki hutan tempat mereka bersemedi
Yang sekejap demi sekejap menghilang

Seribu gagak menyerbu ladang
Pupus sudah pengharapan
Di atas tanah pecah
Kita menari dan menyanyikan lagu meminta hujan

Seribu gagak tiba-tiba lenyap
Nyanyian pengharapan
Terbenam di tanah pecah
Kuburan benih yang mati

Tarian meminta hujan
Menjadi mata air mata





Sebelum Gerbang, Sebelum Petang

9 07 2015

Selangkah lagi
Aku tiba di gerbang petang
Seketika
Kenangan lalu lalang

Bayang-bayang sepanjang jalan
Bertabrakan bersilangan
Retak meja kayu di beranda
Kursi yang lelah, bermalasan
Kerikil di halaman
Dalam diam
Menjadi batu tajam yang melontarkan masa silam

Di pintu mana kau temukan jalan keluar
Atau setapak menuju pulang?
Salib selatan
Penunjuk arah
Terlanjur rusak dalam ingatan

Sesaat lagi
Ya, sesaat lagi, bisikmu lirih
Masing-masing kita tak lagi bisa memilih
Tak ada kekal
Tak guna sesal?

Malam penghabisan di persimpangan
Sesaat sebelum gerbang petang
Kau bertaruh: surut atau melangkah

Aku atau masa silam yang akan kalah





Sajak Yang Tak Akan Pernah Selesai

9 07 2015

Tanah basah
Penghujan yang resah
Masa, yang tak pernah kembali datang
Hanya cubit kecil di cuping hidung
Dan sepi ranjang yang murung

Kota ini
Matamu yang dikurung kabut
Selalu berkabung di alismu yang lengkung
Jalanan sunyi
Udara dan langit pias dikutuk tenung

Garis punggungmu menjauh
Perahu terlanjur mengangkat sauh
Katamu,
Kita pernah membeli waktu
Yang begitu gegas berlalu
Kau, tak juga mengayuh

Biarkan aku menuju dermaga sandar lain di balik kabut
Mungkin dilamun badai, silang sengkarut
Bukankah perjalanan selalu menuju maut?

Tak usah lagi bicarakan entah
Atau tentang ciuman penghabisan di ujung buritan
Kau, katamu, gelombang pasang gelisah
Penyebab surut langkah

Jadi, tolong lepaskan tali sandar di dermaga
Pelabuhan ini, persinggahan sementara
Mengingatnya, sambangi saja batas laut
Di awal senja

Kita, pertemuan arus laut berbeda
Terlalu jauh mencapai tepi muara
Kenanglah saja mata air
Hulu sungai
Dan riam yang membawanya ke samudera

Kukenang kau, hempas ombak
Ceracap pecuk ular
Dan lengkung teluk di pipimu
Taklah guna lagi bersabar
Aku, katamu, jua mualim pencari riuh Maka, kau bentangkan asa di tiang utama bahtera
Katamu lagi,
Akan kutemukan lain dermaga
Kau akan selalu menjadi suar penanda tajam bahaya

Kulepas kau di ujung haluan
Dan sajak yang tak selesai
Kuraut di pangkal tiang layar